TUBUH, IDENTITAS, DAN SIMULASI KESEHATAN DI ERA POSTMODERN ALA JEAN BAUDRILLARD

Di layar gawai, tubuh tampak selalu bugar. Otot mengilap, langkah ringan, senyum sehat. Kesehatan hadir sebagai citra, bukan lagi sebagai pengalaman. Kita menyentuhnya dengan jari, menggulirnya ke atas, lalu percaya: inilah tubuh yang seharusnya.

Jean Baudrillard mungkin akan berkata bahwa kita hidup di zaman simulasi. Bukan karena kesehatan itu palsu, melainkan karena ia telah digantikan oleh tanda-tanda. Yang nyata tak lagi mendahului gambarnya. Justru gambar yang menentukan apa yang kita anggap nyata. Tubuh pun terseret ke sana.

Hari ini, identitas tubuh dibangun oleh representasi. Jam pintar menghitung langkah, aplikasi mengukur tidur, grafik detak jantung memberi peringatan. Semua terasa presisi. Namun yang kita kejar bukan lagi rasa sehat, melainkan tampilan sehat. Angka menjadi cermin. Tubuh belajar menyesuaikan diri dengan layar.

Dalam logika simulasi, kesehatan tak perlu sakit untuk dirayakan. Ia tampil sebagai gaya hidup, sebagai estetika. Makan bukan lagi soal lapar, melainkan soal kalori. Olahraga bukan lagi soal gerak, melainkan soal unggahan. Tubuh menjadi etalase. Identitas dirakit dari pilihan menu, jenis sepatu lari, dan statistik harian.

Baudrillard menyebutnya hiperrealitas: ketika tanda lebih meyakinkan daripada yang ditandai. Tubuh sehat di media sosial lebih nyata daripada tubuh yang lelah di kamar tidur. Yang terakhir ini tak fotogenik. Ia tak punya nilai tukar.

Di titik ini, kesehatan kehilangan kediamannya. Ia tak lagi bersemayam di tubuh, melainkan di sirkulasi citra. Kita percaya pada simulasi, sebab simulasi memberi kepastian. Tubuh yang sesungguhnya selalu ambigu: kadang lemah, kadang memberontak, sering tak patuh pada rencana.

Identitas pun menjadi cair. Kita adalah apa yang ditampilkan tubuh kita, atau lebih tepatnya, apa yang diklaim tanda-tanda tentang tubuh kita. Yang tak terukur seolah tak ada. Kecemasan, nyeri samar, kelelahan batin, semua tersisih karena tak bisa dijadikan grafik.

Baudrillard tidak menawarkan obat. Ia hanya menunjuk ironi. Ketika kesehatan menjadi citra yang sempurna, tubuh yang nyata justru makin asing. Kita hidup bersama tubuh, tapi mengenalnya dari jarak. Dari layar. Dari simulasi.

Barangkali, di sana letak tragedi kecil kita. Tubuh yang paling dekat justru terasa paling jauh. Dan kesehatan, yang mestinya menjadi pengalaman hidup, berubah menjadi pertunjukan yang tak pernah selesai. Di panggung itu, kita bertepuk tangan untuk bayangan diri sendiri.

3 thoughts on “TUBUH, IDENTITAS, DAN SIMULASI KESEHATAN DI ERA POSTMODERN ALA JEAN BAUDRILLARD”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top