TRAUMA, KENIKMATAN (JOUISSANCE), DAN PRAKTIK KESEHATAN DALAM ANALISIS ŽIŽEKIAN

Trauma selalu datang terlambat. Ia baru kita sadari setelah sesuatu runtuh, setelah bahasa gagal menamai apa yang terjadi. Dalam dunia kesehatan modern, trauma sering diperlakukan seperti gangguan yang harus segera dipulihkan, dinormalkan, dan—jika mungkin—dilenyapkan. Slavoj Žižek, dengan ketekunannya membongkar yang tak nyaman, justru akan berhenti di sana: mengapa kita begitu tergesa mengusir trauma? Apa yang sesungguhnya kita takutkan darinya?

Dalam pembacaan Žižek yang setia pada psikoanalisis Lacanian, trauma bukan sekadar luka psikologis. Ia adalah perjumpaan dengan Yang Nyata—the Real—sesuatu yang tak bisa sepenuhnya diserap oleh bahasa, makna, atau narasi medis. Trauma menandai titik di mana sistem kita runtuh. Ia bukan kekurangan makna, melainkan kelebihan: sesuatu yang terlalu nyata untuk ditata.

Praktik kesehatan, dengan seluruh perangkat terapeutiknya, sering berusaha menjinakkan trauma. Ia diberi nama, skala, protokol. Semua dilakukan atas nama pemulihan. Namun Žižek akan mengingatkan bahwa ada sesuatu yang selalu tersisa. Trauma tidak sepenuhnya hilang, karena ia bukan objek yang bisa dibuang. Ia adalah struktur. Ia tinggal, diam-diam, di jantung subjektivitas.

Di sinilah konsep jouissance—kenikmatan yang berlebih dan menyakitkan—menjadi penting. Jouissance bukan kesenangan yang menyenangkan. Ia adalah kenikmatan yang justru melukai, yang membuat kita terjebak dalam pengulangan. Dalam konteks kesehatan, kita sering menikmati penderitaan kita sendiri dengan cara yang tak kita sadari. Kita menceritakan trauma berulang-ulang, mengingatnya, memeliharanya, bahkan mengidentifikasikan diri dengannya.

Žižek tidak melihat ini sebagai kegagalan terapi, melainkan sebagai kebenaran yang tak nyaman. Subjek tidak selalu ingin sembuh. Ada kenikmatan tertentu dalam posisi sebagai yang terluka. Trauma memberi identitas. Ia memberi alasan. Ia bahkan memberi semacam moralitas: aku menderita, maka aku ada. Praktik kesehatan yang hanya menawarkan pemulihan sering gagal membaca dimensi ini.

Lebih jauh, ideologi kesehatan modern cenderung memerintahkan kita untuk “sembuh dengan benar”. Trauma harus diolah secara produktif, dijadikan pelajaran, bahkan modal pertumbuhan diri. Žižek akan mencibir logika ini. Ia melihatnya sebagai bentuk baru kekerasan simbolik: penderitaan dipaksa untuk bermakna, seolah tidak ada ruang bagi luka yang sia-sia.

Dalam analisis Žižekian, kesehatan tidak netral. Ia terjerat dalam tuntutan sosial untuk tetap berfungsi, tetap optimis, tetap berjalan. Trauma yang terlalu lama dianggap kegagalan personal. Subjek diminta bertanggung jawab atas luka yang sering kali berasal dari struktur sosial, sejarah, atau kekerasan yang tak ia pilih.

Namun Žižek juga tidak meromantisasi trauma. Ia tidak mengajak kita berdiam dalam luka. Yang ia tawarkan adalah pengakuan akan paradoks: bahwa penyembuhan tidak selalu berarti menutup luka, dan bahwa kenikmatan tidak selalu sehat. Praktik kesehatan yang jujur, dalam terang ini, bukan yang menjanjikan kebersihan psikis, melainkan yang berani berhadapan dengan ambiguitas subjek.

Trauma, jouissance, dan kesehatan bertemu di satu titik yang rapuh: di mana manusia menyadari bahwa ia tidak sepenuhnya menguasai dirinya sendiri. Ada sesuatu dalam diri kita yang menolak diatur, disembuhkan, atau dinormalkan. Žižek menyebutnya dengan berbagai nama, tetapi intinya sama: manusia bukan mesin yang rusak, melainkan makhluk yang terbelah.

Barangkali, yang paling manusiawi dari praktik kesehatan bukanlah keberhasilannya menghapus trauma, melainkan kesediaannya untuk tidak menutupinya dengan janji palsu. Mengakui bahwa ada luka yang tak selesai, bahwa ada kenikmatan yang menyakitkan, dan bahwa hidup tidak selalu bergerak menuju keseimbangan.

Di sanalah, dalam ketegangan itu, kesehatan berhenti menjadi proyek kesempurnaan. Ia menjadi cara bertahan hidup bersama retakan—tanpa ilusi, tanpa kepastian, tetapi dengan keberanian untuk melihat trauma bukan sebagai musuh yang harus dibinasakan, melainkan sebagai sesuatu yang, suka atau tidak, ikut membentuk siapa kita.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top