Maumere, Kegiatan ELMA – Mengenakan Jas berwarnabiru dongker dengan garis putih di tepi jas yang disetrika rapi, Natalia Tati mahasiswi di Program Studi Fisioterapi tampak berulang kali merapikan kerahnya di depan lobi kampus. Bagi mahasiswa semester empat ini, hari Kamis (26/2) bukan sekadar hari kuliah biasa. Ini adalah momen yudisium di STIKES St. Elisabeth Keuskupan Maumere. Sebuah seremoni yang menandai langkah pendidikan yang sah dalam perjalanan panjang menjadi tenaga kesehatan profesional.

Suasana khidmat menyelimuti kampus saat kegiatan yudisium bagi mahasiswa Semester 1 dan 3 untuk Program Studi S1 Informatika Medis serta S1 Fisioterapi digelar. Karena jumlah peserta yang cukup besar, manajemen kampus membagi kegiatan ke dalam empat sesi intensif guna memastikan setiap mahasiswa mendapatkan perhatian penuh atas pencapaian akademik mereka.
Acara ini dipimpin langsung oleh Ketua STIKes St. Elisabeth Keuskupan Maumere, Maria Kornelia Ringgi Kuwa didampingi jajaran pimpinan yakni Wakil Ketua I Bidang Akademik, RD. Marthon Wega, dan Wakil Ketua II Bidang Non-Akademik, RD. Gabriel Mane. Turut hadir kepala program studi S1 Informatika Medis, dr. Joan Puspita Tanumihardja, sekretaris prodinya Ibu Ma. Clara Yureka, serta kepala program studi S1 Fisioterapi, Ibu Helena Kabelen bersama sekretaris prodinya Ibu Maria Sofia Anita Aga.

Dalam arahannya, Ketua STIKes, Maria Kornelia Ringgi Kuwa menekankan bahwa disiplin diri dimulai dari hal-hal yang terlihat oleh mata. “Kerapihan dan kebersihan adalah identitas utama seorang tenaga kesehatan. Jika hari ini kalian bisa menjaga kebersihan diri dan atribut kalian di kampus, maka kelak kalian akan mampu menjaga standar keselamatan dan higienitas pasien di dunia kerja,” tegasnya di hadapan para peserta.
Namun, dunia kesehatan bukan hanya soal penampilan, melainkan juga soal integritas kolektif. Wakil ketua II bidang non akademik, RD. Gabriel Mane mengingatkan pentingnya solidaritas antar mahasiswa. “Kalian masuk bersama, maka berjuanglah untuk keluar bersama. Kekompakan dan persatuan adalah kekuatan utama; jangan biarkan ada kawan yang tertinggal di tengah jalan karena kurangnya rasa persaudaraan,” pesannya.

Nada wejangan juga datang dari wakil ketua I bidang akademik, RD. Marthon Wega terkait pencapaian akademik. Ia menekankan bahwa hasil yudisium hari ini hanyalah potret sementara. “Perjuangan kalian masih sangat panjang. Jangan terlena jika hari ini meraih IPK tinggi, karena itu bukan jaminan nilai kalian akan tetap sama di semester berikutnya tanpa kerja keras yang konsisten,” ujarnya mengingatkan.
Tantangan praktis juga menjadi sorotan para ketua program studi. dr. Joan Puspita Tanumihardja memberikan catatan khusus mengenai tingkat kehadiran mahasiswa yang seringkali terganggu oleh alasan kesehatan. “Seorang calon praktisi informatika medis harus mampu mengelola kesehatan diri sendiri sebelum mengelola data medis orang lain. Absensi karena sakit yang terlalu sering harus menjadi bahan evaluasi diri bagi kalian,” tuturnya.

Menutup rangkaian pesan, Ibu Helena Kabelen dari prodi Fisioterapi memberikan nasihat yang sangat personal dan krusial bagi masa depan para mahasiswa. Ia meminta mahasiswa untuk mampu mengantisipasi diri dari pergaulan yang merugikan. “Jaga diri kalian dengan baik. Jangan sampai masa depan dan cita-cita kalian terhenti di tengah jalan karena hamil di luar nikah saat masih di bangku kuliah. Fokuslah pada tujuan awal kalian datang ke sini,” pungkasnya.

Sementara itu, salah satu mahasiswi Fanita Bella melihat yudisium ini sebagai titik evaluasi penting bagi perjalanan akademiknya. “Melihat hasil yudisium memberikan gambaran yang jelas tentang bagian mana yang sudah baik dan mana yang harus ditingkatkan, terutama dalam menjaga konsistensi nilai,”ujarnya.
Seiring berakhirnya sesi keempat, para mahasiswa meninggalkan ruangan dengan persaan penuh syukur. Dan Natalia Tati sekali lagi memastikan kerah kemeja birunya tetap rapi sebelum melangkah keluar ruangan yudisium. Namun, pesan para pendidik masih terngiang jelas di telinganya. “Hari ini saya belajar bahwa seragam rapi ini bukan cuma gaya-gayaan,” ucapnya pelan sambil mengusap jasnya. “Ini adalah janji bahwa saya siap memulainya lagi di semester depan dengan lebih serius.” (Chritian Romario/genre: The Wall Street Journalism)
