Kesehatan sebagai Konstruksi Sosial: Membaca Tubuh melalui Pemikiran Michel Foucault

Pada suatu pagi di ruang tunggu rumah sakit, tubuh-tubuh duduk berbaris. Mereka diam, patuh, menunggu namanya dipanggil. Di sana kesehatan tak hadir sebagai perasaan segar atau napas yang lapang, melainkan sebagai angka, grafik, hasil laboratorium. Tubuh telah diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Bahasa itu bukan bahasa si empunya tubuh.

Michel Foucault barangkali akan tersenyum tipis melihat adegan ini. Baginya, tubuh bukan sekadar daging dan tulang, melainkan medan tempat kuasa bekerja. Kesehatan, dengan demikian, tidak pernah netral. Ia lahir dari cara kita berbicara tentang tubuh, dari institusi yang mengaturnya, dari norma yang pelan-pelan kita terima sebagai kebenaran.

Pada abad modern, kesehatan menjadi proyek. Negara, ilmu pengetahuan, dan profesi medis bersekutu, dengan niat baik tentu saja, untuk menciptakan tubuh yang “normal”. Di titik ini, sehat dan sakit tak lagi sekadar pengalaman personal, tetapi kategori sosial. Ada standar. Ada kurva. Ada batas yang memisahkan yang layak dan yang menyimpang. Tubuh dipantau, diukur, diperbaiki. Bahkan sebelum ia mengeluh.

Foucault menyebutnya biopolitik: cara kekuasaan bekerja bukan dengan larangan keras, melainkan dengan pengelolaan kehidupan. Kita diajari cara makan yang benar, tidur yang ideal, berat badan yang pantas. Semua tampak rasional, ilmiah, dan tak terbantahkan. Namun di balik itu, ada disiplin yang halus. Kita mengawasi diri sendiri. Kita merasa bersalah ketika melanggar anjuran kesehatan, seolah-olah tubuh adalah proyek moral.

Dalam kerangka ini, kesehatan adalah konstruksi sosial. Ia dibentuk oleh diskursus, oleh siapa yang berhak mendefinisikan “sehat”. Suara pasien sering tenggelam oleh suara diagnosis. Pengalaman nyeri, cemas, atau lelah direduksi menjadi kode. Yang personal menjadi administratif.

Namun Foucault tidak sekadar mengeluh. Ia mengajak kita waspada. Ketika kesehatan diperlakukan sebagai kebenaran tunggal, kita lupa bahwa tubuh selalu punya cerita sendiri. Tubuh bukan mesin yang bisa diservis tanpa sisa. Ada yang tak terukur, ada yang tak bisa dimasukkan ke tabel statistik.

Maka membaca kesehatan sebagai konstruksi sosial bukan berarti menolak ilmu medis, melainkan membuka jarak kritis. Agar kita bisa bertanya: siapa yang diuntungkan oleh definisi sehat ini? Siapa yang disisihkan? Dan di mana posisi subjek, manusia yang rapuh namun berpikir, di tengah rezim kesehatan yang serba tahu?

Pada akhirnya, kesehatan barangkali bukan tujuan yang final, melainkan proses tawar-menawar terus-menerus antara tubuh, pengetahuan, dan kekuasaan. Di sana, kita perlu tetap curiga, sekaligus tetap manusia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top