Tubuh, dalam praktik kesehatan modern, sering hadir sebagai sesuatu yang asing bagi pemiliknya sendiri. Ia diukur, dianalisis, dipisah-pisahkan ke dalam fungsi dan organ, lalu dikembalikan kepada subjeknya dalam bentuk laporan, angka, dan rekomendasi. Kita menerimanya dengan patuh, kadang dengan rasa syukur, kadang dengan kecemasan yang tak terucap. Di titik ini, gagasan Karl Marx tentang alienasi menemukan gaungnya yang sunyi namun tajam.
Marx berbicara tentang alienasi sebagai keterputusan manusia dari hakikat dirinya: dari kerja, dari hasil kerjanya, dari sesama, dan akhirnya dari dirinya sendiri. Dalam kapitalisme, kerja yang seharusnya menjadi ekspresi hidup berubah menjadi aktivitas yang asing dan memaksa. Jika kerangka ini kita bawa ke ranah kesehatan, tubuh tampak mengalami nasib serupa. Ia bukan lagi ruang pengalaman yang hidup, melainkan objek produksi dan pengelolaan.
Praktik kesehatan modern bekerja dalam logika efisiensi dan standardisasi. Waktu konsultasi dibatasi, gejala diringkas, dan tubuh dipetakan agar sesuai dengan kategori yang telah tersedia. Dalam proses itu, pengalaman subjektif—rasa sakit yang tak terdefinisi, kelelahan yang tak terukur—sering kali terpinggirkan. Tubuh menjadi sesuatu yang “dikerjakan”, bukan sesuatu yang “dihidupi”.
Alienasi ini semakin kentara ketika kesehatan terjerat dalam relasi pasar. Tubuh tidak hanya dirawat, tetapi juga dinilai. Ia menjadi investasi yang harus dijaga produktivitasnya, aset yang tidak boleh terlalu lama rusak. Sakit bukan lagi sekadar peristiwa manusiawi, melainkan gangguan terhadap kinerja. Dalam bahasa Marx, tubuh direduksi menjadi alat produksi, dan kesehatan menjadi syarat agar alat itu tetap berfungsi.
Di sini, subjek kesehatan kerap terbelah. Di satu sisi, ia adalah manusia yang merasakan nyeri, cemas, dan harapan. Di sisi lain, ia diperlakukan sebagai kasus, data, atau komoditas layanan. Hubungan antara manusia dan tubuhnya sendiri menjadi relasi yang terasing. Kita belajar berbicara tentang tubuh dengan bahasa orang lain, bahasa institusi, bahasa pasar.
Marx mengingatkan bahwa alienasi bukan sekadar kondisi psikologis, melainkan hasil dari struktur sosial. Maka, alienasi tubuh dalam praktik kesehatan tidak bisa dilepaskan dari sistem ekonomi-politik yang melingkupinya. Ketika layanan kesehatan tunduk pada logika keuntungan, relasi antara dokter dan pasien berisiko berubah menjadi relasi produsen dan konsumen. Kesehatan dijual, tubuh dibeli kembali dalam bentuk layanan.
Namun Marx juga membuka kemungkinan pembebasan. Alienasi bukan takdir, melainkan kondisi historis. Dalam konteks kesehatan, ini berarti membayangkan praktik yang mengembalikan tubuh kepada subjeknya. Praktik yang tidak hanya menyembuhkan organ, tetapi juga mendengar pengalaman. Yang tidak semata mengejar efisiensi, tetapi mengakui kompleksitas hidup manusia.
Membaca kesehatan melalui Marx bukan berarti menolak ilmu medis. Ia justru mengajak kita waspada terhadap cara ilmu itu dilekatkan pada sistem yang bisa mengasingkan. Tubuh, bagaimanapun, bukan mesin produksi semata. Ia adalah tempat kerja, ya, tetapi juga tempat luka, ingatan, dan makna.
Di hadapan alienasi tubuh, pertanyaan yang tersisa bukan hanya bagaimana kita menjadi lebih sehat, melainkan: untuk siapa kesehatan itu bekerja? Jika kesehatan hanya berfungsi agar manusia kembali produktif, maka alienasi tetap berlangsung. Tetapi jika kesehatan dimaknai sebagai pemulihan relasi manusia dengan tubuhnya sendiri, barangkali di situlah kritik Marx menemukan relevansinya yang paling manusiawi.
