STIKES ST. ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE GELAR KULIAH PAKAR, BEDAH KOLABORASI PERAWATAN PALIATIF PASIEN KANKER

MAUMERE, BERITA ELMA – Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) St. Elisabeth Keuskupan Maumere menggelar kuliah umum pakar yang menyoroti pentingnya kolaborasi interprofesional dalam perawatan paliatif bagi pasien kanker. Acara yang berlangsung pada Sabtu, 23 Mei 2026, di aula kampus setempat ini menghadirkan Lektor senior dan peneliti Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Yati Afiyanti, S.Kep., M.N.

Dalam pengantarnya, Prof. Yati menegaskan bahwa mahasiswa STIKes yang kelak menyandang gelar tenaga kesehatan wajib memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Ia juga menyinggung peran krusial tenaga informatika kesehatan di masa depan serta pentingnya membuang ego sektoral dalam pelayanan medis. “Lebih baik kita bekerja sama melalui kolaborasi interprofesional daripada bekerja sendirian,” ujar pakar kesehatan maternitas dan perempuan tersebut.

Saat memaparkan materi, Prof. Yati membedah perbedaan mendasar antara perawatan paliatif (palliative care) dan perawatan hospi (hospice care). Perawatan paliatif ditujukan bagi siapa saja yang didiagnosis menderita penyakit mengancam jiwa guna mempertahankan kualitas hidup dan mengurangi gejala. Bahkan temuan terbaru menunjukkan pasien kanker bisa hidup lebih lama jika menerima perawatan ini bersamaan dengan pengobatan standar. Sebaliknya, hospice care lebih berfokus pada pasien penyakit terminal untuk memberikan kematian yang bermartabat dan bebas nyeri.

Moderator kuliah umum, Helena Kidi Labot, S.ST., M.Kes., dalam sambutannya menyatakan bahwa pemahaman mengenai perawatan paliatif sangat krusial bagi institusi pendidikan kesehatan di daerah. “Kuliah pakar ini menjadi momentum penting untuk membekali calon lulusan kami agar tidak gagap saat harus berkolaborasi dengan berbagai profesi medis di rumah sakit demi kemanusiaan,” kata Helena.

Senada dengan itu, Ketua Program Studi D3 Keperawatan STIKes St. Elisabeth, Rensiana Reong, mengungkapkan bahwa kurikulum keperawatan saat ini terus didorong untuk adaptif terhadap kebutuhan klinis yang kompleks. “Kami berharap materi dari Prof. Yati ini membuka mata para mahasiswa bahwa merawat pasien membutuhkan kepekaan multidisiplin, bukan hanya tugas satu profesi saja,” tuturnya.

Tanggapan positif juga datang dari dosen D3 Keperawatan STIKes St. Elisabeth, Kristoforus Samson. Ia menilai materi yang dibawakan sangat relevan dengan realitas pelayanan kesehatan di daerah saat ini. “Edukasi mengenai perbedaan paliatif dan hospi ini memberi pondasi kuat bagi dosen dan mahasiswa. Ini mendorong kami untuk terus memperbarui metode pengajaran praktikum keperawatan berbasis kerja tim lintas profesi,” ungkap Kristoforus.

Sementara itu, Avila, seorang mahasiswa prodi D3 Keperawatan yang mengikuti seminar tersebut, yang mengaku mendapat perspektif baru mengenai penanganan pasien kritis. “Selama ini kami mengira perawatan pasien kanker hanya seputar medis klinis harian. Sekarang kami paham bahwa menjaga psikologis dan kualitas hidup mereka melalui pendekatan interprofesional jauh lebih utama,” ujarnya.

Kuliah pakar ini diakhiri dengan sesi foto bersama dan penyerahan penghargaan, Melalui forum akademis ini, STIKes St. Elisabeth Keuskupan Maumere menegaskan komitmennya untuk terus mencetak tenaga kesehatan yang responsif, adaptif terhadap kemajuan teknologi informatika, serta mampu berkolaborasi di tingkat nasional maupun global. (Christian Romario)

1 thought on “STIKES ST. ELISABETH KEUSKUPAN MAUMERE GELAR KULIAH PAKAR, BEDAH KOLABORASI PERAWATAN PALIATIF PASIEN KANKER”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top