MAUMERE, BERITA ELMA – Puncak Caping Day STIKes St. Elisabeth Keuskupan Maumere berlangsung khidmat dalam perayaan Misa Kudus di Rumah Retret Mageria, Minggu (1/3/2026). Sebanyak 121 mahasiswa Program Studi D3 Keperawatan resmi menjalani penyematan capping (topi perawat) dan bunga dada. Misa yang mengusung tema “Love, Serve, and Give” ini dipimpin oleh RP. Marthen Wela, O.Carm, dan dihadiri oleh seluruh fungsionaris kampus.

Suasana sakral mulai menyelimuti aula retret saat para calon perawat ini memasuki ruangan dengan langkah pasti yang akan menandai transformasi diri mereka lewat misa kudus.
Misa dimulai kurang lebih pukul 09.00 WITA dengan iringan lagu pujian yang megah. Dalam homilinya, Wakil Ketua 2 Bidang Non-Akademik, RD. Gabriel Mane, memberikan refleksi mendalam mengenai esensi profesi keperawatan. Ia menegaskan bahwa capping day bukan sekadar rutinitas akademik tahunan.

“Capping day itu sudah biasa, tapi beda rasa. Menjadi perawat adalah sebuah panggilan suci. Kalian tidak hanya dipanggil untuk merawat tubuh yang sakit, tetapi juga merawat hati yang terluka,” ujar RD. Gabriel Mane. Ia juga merujuk pada sosok Abraham dalam Kitab Suci sebagai teladan bagi setiap orang yang menjalankan panggilan Tuhan dengan cara setia mendengarkan sabda-Nya. “Hari ini kalian bertransformasi. Ingatlah, tiada keberhasilan sejati yang lahir tanpa perjuangan dan pengorbanan,” tambahnya.
Momen emosional terjadi saat prosesi penyematan capping dan bunga dada dilakukan. Satu per satu mahasiswa maju untuk menerima atribut profesi mereka. Ketua STIKes St. Elisabeth, Maria Kornelia Ringgi Kuwa, dalam sambutannya menekankan bahwa atribut tersebut adalah simbol kerendahan hati.

“Caping dan bunga dada ini bukan sekadar aksesoris profesi, melainkan pakaian pelayan. Mulai hari ini, ingatlah bahwa saat kalian menyentuh tubuh pasien, kalian sedang menyentuh luka Yesus sendiri,” pesan Maria Kornelia. Ia juga mengingatkan pentingnya keramahan dalam pelayanan. “Jadikan senyum kalian sebagai obat di tengah rasa sakit pasien. Senyum adalah bahasa universal yang paling efektif untuk menghubungkan hati kalian dengan mereka yang sedang menderita.” ujarnya
Sepanjang jalannya misa dan seremoni, fungsionaris Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tampak sigap memastikan seluruh urutan acara berjalan dengan protokol yang teratur dan khidmat. Setelah misa berakhir, kegiatan ditutup dengan sesi pose bersama antara pimpinan STIKes, para imam, panitia, dan seluruh mahasiswa yang kini telah resmi mengenakan atribut keperawatan mereka. (Penulis: Christian Romario/genre: The Hourglass – Chicago Tribune)

Good Job 👍