Sabtu siang di STIKes St. Elisabeth, Maria Sofia Anita Aga berdiri tegak di tengah pusaran 121 mahasiswa yang sibuk dengan ransel dan gawai mereka. Sebagai Ketua Panitia, ia tidak sedang memperhatikan unggahan Instagram Story yang riuh, tetapi sibuk memastikan setiap detail keberangkatan berjalan sempurna. Siang Itu, Sofia Anita Aga terasa seperti Sang Alkemis dalam karya Paulo Coelho. ia sedang menyusun kepingan rencana yang rumit agar seluruh rangkaian kegiatan di Rumah Retret Mageria berjalan tanpa celah.

Ketegasan Sofia Anita Aga dalam mengawal keberangkatan ini adalah awal dari fase krusial bagi mahasiswa semester 1 D3 Keperawatan sebelum mereka resmi menjalani proses Caping Day. Kegiatan yang berlangsung pada 28 Februari-1 Maret 2026 ini memindahkan seluruh basis pembelajaran dari ruang kelas ke Rumah Retret Mageria.
Selain, Maria Sofia Anita Aga, Kegiatan ini juga didampingi langsung oleh jajaran pimpinan kampus yang terdiri dari: Ketua Maria Kornelia Ringgi Kuwa, WK 1 RD. Marthonn Wega, dan WK 2 RD. Gabriel Mane, para dosen, dan pegawai dengan koordinasi oleh BEM. Kegiatan hari ini meliputi rekoleksi, adorasi, berjalan menuju bukit golgota, dan geladi.

Dalam sesi rekoleksi, RD. Patrick, O.Carm menekankan bahwa profesi perawat adalah sebuah bentuk pelayanan yang melampaui urusan ekonomi.
“Perawat bukan sekadar profesi untuk mencari upah, melainkan suatu panggilan suci,” tegas RD. Patrick. Sementara itu, Ketua Panitia Maria Sofia Anita Aga, menyebutkan bahwa setiap tahapan ini adalah bentuk pematangan komitmen.
“Kami ingin setiap mahasiswa meresapi setiap langkah geladi ini agar Capping Day nanti menjadi sebuah komitmen batin yang matang,” ujarnya.
Pesan ini diperkuat oleh Wakil Ketua II bidang non akademik, RD. Gabriel Mane yang menambahkan bahwa jeda di rumah retret ini adalah bentuk investasi karakter yang krusial. Menurutnya, perawat akan menghadapi situasi hidup dan mati di lapangan. “Hanya hati yang telah menemukan kedamaian di tempat sunyi yang mampu memberikan ketenangan bagi pasien di masa-masa kritis,” ujarnya.

Sedangkan, sekretaris Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Laura Sea menekankan bahwa peran mahasiswa dalam kepanitiaan adalah untuk memastikan setiap rekan sejawatnya mendapatkan pengalaman spiritual yang utuh.
“Kami di BEM berusaha menjaga agar setiap detail kegiatan, mulai dari adorasi hingga gladi, berjalan dengan ritme yang tenang dan khidmat. Kami ingin kawan-kawan tidak hanya fokus pada seremoni pemasangan topi secara fisik, tapi benar-benar siap, sungguh totalitas dalam menghayati pilihannya sebagai mahasiswa keperawatan,” ungkap Sekretaris BEM tersebut

Dan Malam itu di Mageria, setelah gladi bersih berjalan dengan lancar dan logistik terpenuhi, Maria Sofia Anita Aga duduk sejenak di bawah bayang-bayang pepohonan. Kini, ia akhirnya punya waktu untuk membuka kembali Instagram di ponselnya. (Chrstian Romario/ genre: The wall street jornalism)
