MAUMERE, BERITA ELMA – Di tengah dorongan nasional untuk melakukan reformasi pendidikan tinggi, Stikes St. Elisabeth Keuskupan Maumere telah mengambil langkah signifikan dalam merombak kerangka akademiknya melalui penerapan kurikulum Outcome-Based Education (OBE).
Pada hari Selasa (17/2), institusi kesehatan yang berbasis di Sikka ini meluncurkan tahap kedua bimbingan teknis intensif yang dipimpin oleh Prof. Prihandoko, S.Kom., MIT, Ph.D.. Lokakarya tiga hari ini, yang dijadwalkan berlangsung hingga 19 Februari 2026, bertujuan untuk menyelaraskan standar pengajaran dengan kebutuhan industri yang terus berkembang.

Kegiatan yang berlangsung dinamis ini memperlihatkan para dosen dari program studi S1 Fisioterapi, D3 Keperawatan, dan S1 Informatika Medis mempresentasikan draf kurikulum mereka yang telah direvisi. Diskusi berfokus pada elemen-elemen krusial sepert pemetaan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK).
Dalam salah satu sesi dialog interaktif yang tajam, Prof. Prihandoko menekankan pentingnya presisi linguistik dan pedagogis dalam desain kurikulum. “Kata kerja dalam CPMK tidak boleh sembarangan; taksonominya tidak boleh lebih tinggi daripada kata kerja pada CPL-nya,” tegasnya, merujuk pada kerangka kerja hirarkis taksonomi Bloom.

Transformasi kurikulum ini merupakan bagian dari visi Stikes St. Elisabeth Keuskupan Maumere untuk menjadi pusat pendidikan kesehatan yang unggul dan inovatif pada tahun 2049. Dengan beralih dari model kurikulum lama ke sistem yang berorientasi pada hasil (OBE), institusi ini berupaya memastikan bahwa lulusan mereka tidak hanya memiliki gelar, tetapi juga kompetensi praktis yang dapat diverifikasi.
Ketua Stikes St. Elisabeth Keuskupan Maumere, Maria Kornelia Ringgi Kuwa menegaskan bahwa transformasi ini adalah mandat moral sekaligus profesional.

“Kami tidak sekadar mengubah dokumen administratif. Ini adalah komitmen kami untuk memastikan bahwa setiap mahasiswa yang lulus dari rahim Stikes St. Elisabeth Keuskupan Maumere memiliki kompetensi yang terukur secara presisi dan diakui oleh masyarakat,” ujarnya di sela-sela kegiatan.
Upaya perbaikan mutu ini mencerminkan tren yang lebih luas di Indonesia, di mana perguruan tinggi semakin dituntut untuk menutup celah antara teori akademis dan kesiapan kerja. Di Maumere, Stikes St. Elisabeth Keuskupan Maumere telah memulainya. (Christian Romario)






