Elma, Humaniora – Dalam Injil Matius 25:36, Yesus berkata, “Ketika Aku sakit, kamu melawat Aku.” Di situ, kata melawat tidak hanya berarti datang menjenguk, tetapi juga menunjukkan kepedulian yang nyata dan konkret. Salah satunya yakni bertahan di sisi orang sakit, merawatnya dan ikut menanggung sebagian beban mereka. Karenanya, merawat orang sakit bukan hanya tindakan medis atau kewajiban sosial. Itu adalah tindakan kasih. kasih bukanlah teori. Kasih adalah sesuatu yang dilakukan. Kasih kepada yang menderita adalah partisipasi dalam kasih Allah sendiri.

Barangkali itulah sebabnya kalimat ini diukir di dinding sekolah kedokteran Loyola University Chicago Stritch School of Medicine. Ukiran ini menjadi semacam altar sekuler yang mengingatkan para mahasiswa kedokteran bahwa profesi mereka bukan sekadar pekerjaan teknis, melainkan sebuah pernyataaan iman untuk melayani sesama. Sebab dalam tubuh orang sakit itu, Tuhan tidak sekadar hadir. Ia menunggu untuk dilawat dan dirawat.
Maka dari itu, “Ketika Aku sakit, kamu melawat Aku” menununjukkan makna yang lebih jauh dari sekedar metafora moral. Dalam kata-kata itu, terkandung teologi inkarnasional dimana Yesus mengindentifikasi dirinya dengan yang menderita, dengan yang sakit. Ia memilih tubuh yang rapuh, paru-paru yang terengah, dan ranjang rumah sakit yang bau antiseptik sebagai tempat tinggal-Nya. Tak heran St. Yohanes Krisostomus berkata: ketika engkau tidak menemukan Kristus dalam diri yang miskin, sakit, dan menderita di pintu gereja, engkau tidak akan menemukannya dalam piala [altar] .
Tradisi Katolik memberinya nama sebagai pilihan bagi yang paling lemah. Kata-kata besar, memang. Tetapi pada akhirnya semuanya dikonkretkan menjadi gerak kecil seperti menyesuaikan bantal, menunda sikap sinis, menjelaskan prognosis dengan jujur, menemani seseorang yang takut mati tanpa banyak petuah.

Atau dalam nada yang mungkin lebih dekat pada puisi Sapardi, Tuhan di sini tidak berteriak. Ia hadir seperti hujan yang jatuh pelan. Ia tidak memaksa kita untuk percaya; Ia hanya memberi kesempatan untuk peduli.
Mungkin saja merawat orang sakit bukan soal menyentuh yang ilahi secara heroik.
Mungkin ia hanya soal hal yang sederhana:
jangan merugikan (primum non nocere)
tidak menutup mata, tidak mengeraskan hati
Dan dalam kesederhanaan itu, tanpa kita sadari, kita sedang menjenguk sesuatu yang lebih luas daripada sekadar si sakit yang terbaring. Tuhan. (Christian Romario).






