Tubuh, dalam wacana kesehatan modern, kerap diperlakukan seperti peta yang pasti. Ada organ, fungsi, angka, dan batas normal. Ia dibaca dengan alat ukur, dicitrakan melalui layar, dan disimpulkan lewat diagnosis. Namun poststrukturalisme datang membawa kecurigaan yang tenang tetapi mendalam: benarkah tubuh sesederhana itu? Ataukah ia, seperti teks, selalu terbuka pada tafsir, penuh ambiguitas, dan tak pernah selesai dibaca?
Dalam kerangka poststrukturalisme, tubuh tidak hadir sebagai objek alamiah yang berbicara sendiri. Ia dimaknai melalui bahasa, simbol, dan diskursus yang mengitarinya. Seperti teks, tubuh tidak memiliki makna tunggal yang final. Ia ditulis, ditafsirkan, dan sering kali ditulis ulang oleh berbagai kekuatan: ilmu kedokteran, kebijakan kesehatan, norma sosial, media, hingga pengalaman personal yang paling sunyi.
Menyebut tubuh sebagai teks berarti mengakui bahwa “sehat” dan “sakit” bukan hanya kondisi biologis, melainkan hasil pembacaan. Gejala menjadi tanda. Diagnosis menjadi narasi. Rekam medis menyerupai arsip tafsir yang disusun dalam bahasa tertentu, dengan tata bahasa ilmiah yang mengklaim netralitas, padahal sarat asumsi. Di sini, poststrukturalisme mengingatkan kita bahwa bahasa tidak pernah polos. Ia selalu memilih, menyingkirkan, dan mengatur makna.
Dalam diskursus kesehatan, ada kecenderungan untuk menutup makna. Diagnosis berfungsi seperti titik akhir dalam sebuah kalimat: tegas, mengikat, dan sulit diganggu. Namun poststrukturalisme justru tertarik pada celah, pada apa yang tidak sepenuhnya terucapkan. Pengalaman nyeri yang tak terukur, kecemasan yang tak masuk kategori, kelelahan yang “tidak ditemukan apa-apa” dalam hasil laboratorium—semua itu adalah bagian dari teks tubuh yang menolak ditutup.
Di sini, tubuh pasien sering berada dalam posisi yang rapuh. Narasinya berhadapan dengan narasi institusional yang lebih mapan. Ketika pengalaman tidak sesuai dengan bahasa medis, pengalaman itu kerap dianggap kurang sah. Poststrukturalisme tidak menolak ilmu kesehatan, tetapi menolak klaim bahwa satu bahasa dapat mewakili seluruh pengalaman tubuh. Tidak ada pembacaan yang sepenuhnya final, sebagaimana tidak ada teks yang sepenuhnya jinak.
Membaca tubuh sebagai teks juga berarti menyadari bahwa kekuasaan bekerja melalui bahasa. Istilah “normal”, “risiko”, atau “gaya hidup sehat” bukan sekadar deskripsi, melainkan perintah halus. Ia membentuk cara kita memandang diri sendiri, cara kita merasa bersalah, dan cara kita mendisiplinkan tubuh. Tubuh, dalam hal ini, bukan hanya yang dibaca, tetapi juga yang dipaksa menyesuaikan diri dengan pembacaan tertentu.
Namun poststrukturalisme tidak berhenti pada kritik. Ia membuka kemungkinan etis: memberi ruang bagi pembacaan lain. Jika tubuh adalah teks, maka pasien bukan sekadar objek diagnosis, melainkan juga pembaca dan penulis atas tubuhnya sendiri. Pengalaman subjektif tidak lagi ditempatkan sebagai catatan kaki, melainkan sebagai bagian dari makna yang sah.
Seperti esai yang baik, tubuh menyimpan lapisan-lapisan makna. Ada yang jelas, ada yang samar, ada yang hanya muncul jika dibaca dengan sabar. Pendekatan poststrukturalisme mengajak kita untuk membaca kesehatan dengan kehati-hatian semacam itu. Tidak tergesa menutup tafsir, tidak tergoda oleh kepastian yang terlalu rapi.
Mungkin, di situlah letak kemanusiaan diskursus kesehatan. Bukan pada klaim kebenaran tunggal, melainkan pada kesediaan untuk terus membaca ulang tubuh—sebagai teks yang hidup, berubah, dan selalu menuntut kepekaan, bukan sekadar ketepatan.
