Kesehatan, pada suatu masa, datang kepada kita sebagai janji besar. Ia berbicara dengan suara kemajuan, ilmu pengetahuan, dan keselamatan universal. Ada keyakinan bahwa sains medis, dengan metodologinya yang kian presisi, akan membawa umat manusia menuju hidup yang lebih panjang, lebih sehat, dan lebih terkendali. Di situlah kesehatan menjelma metanarasi: kisah besar yang mengklaim legitimasi atas cara kita memahami tubuh, sakit, dan hidup itu sendiri.
Jean-François Lyotard menyebut zaman kita sebagai masa “ketidakpercayaan terhadap metanarasi”. Yang runtuh bukan sekadar cerita besar tentang sejarah atau politik, melainkan juga klaim-klaim universal yang dulu tampak tak tergoyahkan. Dalam terang pemikiran Lyotard, kesehatan tidak lagi bisa berdiri sebagai satu kebenaran tunggal. Ia terpecah menjadi serpihan narasi, lokal, situasional, dan sering kali saling bertentangan.
Dalam dunia kesehatan kontemporer, yang kita jumpai bukan lagi satu suara otoritatif, melainkan koor yang riuh. Ada bahasa klinis para dokter, statistik para epidemiolog, pengalaman personal pasien, kesaksian penyintas, hingga cerita-cerita yang beredar di media sosial. Masing-masing berbicara dengan rezim bahasanya sendiri, dengan klaim kebenaran yang tidak selalu bisa diterjemahkan satu sama lain. Inilah yang oleh Lyotard disebut differend: situasi ketika konflik tidak bisa diselesaikan karena tidak ada bahasa bersama yang sepenuhnya netral.
Dari sudut pandang ini, kesehatan bukan sekadar fakta biologis, melainkan peristiwa diskursif. Apa yang disebut “sehat” atau “sakit” bergantung pada narasi yang sedang bekerja. Tubuh tidak lagi dibaca semata sebagai objek medis, tetapi sebagai medan tafsir. Di satu tempat, kelelahan dianggap gejala klinis; di tempat lain, ia dibaca sebagai konsekuensi kerja berlebihan; di ruang yang berbeda lagi, ia menjadi bahasa protes tubuh terhadap sistem hidup yang tak manusiawi.
Lyotard mengingatkan kita bahwa ilmu pengetahuan modern mendapatkan legitimasinya bukan hanya dari kebenaran empiris, tetapi dari cerita besar tentang kemajuan dan emansipasi. Ketika cerita besar itu runtuh, sains tidak serta-merta kehilangan maknanya, tetapi kehilangan hak istimewanya untuk berbicara sendirian. Dalam konteks kesehatan, ini berarti otoritas medis tidak lagi absolut. Ia harus bernegosiasi dengan narasi-narasi lain yang dulu dianggap pinggiran atau tidak sah.
Namun, runtuhnya metanarasi bukan tanpa risiko. Ketika tidak ada lagi kisah besar yang memayungi, kesehatan mudah tergelincir menjadi komoditas atau opini. Setiap narasi mengklaim kebenarannya sendiri, dan tubuh manusia menjadi arena pertarungan makna. Di sinilah ketegangan postmodern bekerja: antara pembebasan dari otoritas tunggal dan kecemasan akan hilangnya pegangan bersama.
Sebagai filsuf, Lyotard tidak menawarkan jalan keluar yang menenangkan. Ia tidak mengajak kita membangun metanarasi baru. Ia justru meminta kewaspadaan etis: memberi ruang bagi suara yang kecil, yang rapuh, yang sering tak terdengar dalam bahasa resmi kesehatan. Dalam dunia tanpa cerita besar, keadilan bukan lagi soal keseragaman, melainkan kepekaan terhadap perbedaan.
Maka, narasi kesehatan hari ini bukanlah kisah tentang kemenangan final atas penyakit. Ia adalah kumpulan cerita yang tak selesai, sering retak, dan kadang saling menyela. Barangkali, justru di situlah kemanusiaannya. Tubuh tidak lagi dituntut tunduk pada satu kebenaran agung, melainkan diakui dalam keragaman pengalamannya. Dan kesehatan, alih-alih janji keselamatan universal, menjadi percakapan yang terus-menerus kita rundingkan dengan ilmu, dengan sesama, dan dengan diri kita sendiri.
