Kesehatan, hari-hari ini, sering tampil sebagai sebuah keharusan yang sunyi. Ia tidak memaksa dengan cambuk, tetapi dengan anjuran, grafik, dan nasihat yang terdengar masuk akal. Kita diminta menghitung langkah, mengatur kalori, mengelola stres, dan memantau tubuh seolah-olah ia sebuah proyek yang harus terus disempurnakan. Rasional, efisien, dan—kata yang paling sering dipakai—bertanggung jawab.
Di sini, bayangan Immanuel Kant tampak samar namun menentukan. Kant, filsuf dari Königsberg yang percaya pada otonomi rasio, menempatkan manusia sebagai subjek yang seharusnya memerintah dirinya sendiri. Otonomi, baginya, bukan kebebasan untuk berbuat sekehendak hati, melainkan kemampuan rasional untuk menaati hukum yang kita berikan pada diri kita sendiri. Disiplin bukan lawan kebebasan, melainkan syaratnya.
Dalam terang itu, kesehatan mudah dibaca sebagai kewajiban moral. Menjaga tubuh menjadi semacam imperatif kategoris versi modern: bertindaklah sedemikian rupa agar tubuhmu layak menjadi hukum universal. Tubuh yang sehat bukan hanya tubuh yang berfungsi, tetapi tubuh yang patuh pada rasionalitas. Sakit, dengan demikian, diam-diam berubah menjadi kegagalan mengelola diri.
Namun di titik ini, sesuatu terasa ganjil. Kant berbicara tentang rasio sebagai pembebas dari dorongan naluriah dan kekuasaan eksternal. Tetapi dalam praktik kesehatan modern, rasionalitas justru sering tampil sebagai mekanisme pengawasan yang halus. Kita mengawasi diri kita sendiri, mencurigai kelelahan, merasa bersalah pada kenikmatan, dan mencatat penyimpangan kecil seolah-olah itu dosa ringan yang menunggu pengakuan.
Disiplin diri, yang oleh Kant dimaksudkan sebagai ekspresi kebebasan, berbelok menjadi rutinitas yang melelahkan. Otonomi berubah menjadi kewajiban untuk selalu sehat. Kita bebas—tetapi hanya sejauh kebebasan itu selaras dengan standar kesehatan yang telah ditentukan. Rasio tidak lagi sekadar alat refleksi, melainkan mesin evaluasi yang bekerja tanpa henti.
Di sini, kritik perlu diajukan, bukan pada Kant semata, melainkan pada cara kita mewarisi Kant. Rasionalitas yang ia impikan adalah rasionalitas yang bermoral, yang membuka ruang bagi martabat manusia. Tetapi kesehatan sebagai proyek rasionalitas sering kali menutup ruang itu. Tubuh direduksi menjadi objek pengelolaan, bukan pengalaman yang rapuh, ambigu, dan tak sepenuhnya tunduk pada akal.
Barangkali, yang luput dari proyek kesehatan modern adalah pengakuan akan batas. Kant sendiri tahu bahwa rasio memiliki batas, bahwa manusia bukan semata makhluk rasional. Namun dalam wacana kesehatan hari ini, batas itu disingkirkan. Segala sesuatu bisa diukur, dicegah, dioptimalkan. Sakit menjadi anomali, bukan bagian dari hidup.
Maka, kesehatan sebagai proyek rasionalitas perlu dibaca ulang. Bukan untuk menolak disiplin atau akal sehat, melainkan untuk mengingat bahwa tubuh bukan hanya tugas, melainkan juga cerita. Dan dalam cerita itu, tidak semua hal harus dibenahi. Ada yang cukup dipahami, diterima, bahkan dibiarkan tanpa rasa bersalah.
Di situlah, mungkin, otonomi menemukan makna yang lebih manusiawi. Bukan sebagai kewajiban untuk selalu sehat, tetapi sebagai kebebasan untuk mengakui kerapuhan, tanpa kehilangan martabat.
