MEDIKALISASI KEHIDUPAN SEHARI-HARI: KRITIK POSTMODERN TERHADAP DOMINASI ILMU KESEHATAN

Pada suatu titik, hidup berhenti menjadi sekadar hidup. Ia berubah menjadi gejala. Bangun terlalu pagi dicurigai sebagai gangguan. Tidur terlalu lama dianggap masalah. Sedih diberi nama sindrom. Lelah diberi resep. Kita hidup di zaman ketika hampir tak ada pengalaman yang dibiarkan telanjang, tanpa label.

Inilah yang disebut medikalisasi: proses ketika wilayah kehidupan sehari-hari perlahan dipindahkan ke dalam bahasa medis. Apa yang dulu dianggap variasi manusiawi kini menjadi objek diagnosis. Ilmu kesehatan hadir bukan hanya di rumah sakit, tetapi di ruang kelas, kantor, rumah tangga, bahkan percakapan santai. Kita berbicara tentang diri sendiri dengan istilah yang dipinjam dari klinik.

Postmodernisme mengajarkan kecurigaan pada klaim universal. Ia bertanya: kapan tepatnya ilmu kesehatan berhenti menjadi alat, lalu berubah menjadi otoritas? Michel Foucault sudah lama mengingatkan bahwa pengetahuan tak pernah bebas nilai. Ia tumbuh bersama institusi, regulasi, dan kepentingan. Dalam medikalisasi, kepedulian dan kontrol sering berbaur tanpa batas yang jelas.

Ilmu kesehatan bekerja dengan niat mulia: mencegah, menyembuhkan, memperpanjang usia. Namun dalam praktiknya, ia juga menetapkan norma. Ada standar kebahagiaan, standar produktivitas, standar kewarasan. Tubuh dan pikiran diukur dengan kurva yang sama, seolah-olah manusia bisa diringkas menjadi rata-rata statistik.

Di sinilah kritik postmodern menemukan momentumnya. Ketika hampir setiap aspek hidup dapat dipersoalkan secara medis, ruang bagi ketidaksempurnaan menyempit. Kesedihan kehilangan martabatnya sebagai pengalaman eksistensial. Ia segera dianggap gangguan yang harus diatasi, bukan dirasakan. Padahal, barangkali justru di sanalah manusia belajar memahami batas dirinya.

Medikalisasi juga menggeser posisi subjek. Individu tidak lagi menjadi penafsir utama atas tubuh dan jiwanya. Ia bergantung pada hasil tes, panduan ahli, dan protokol. Pengalaman personal tunduk pada otoritas eksternal. Yang tak bisa dijelaskan secara ilmiah dianggap tak sahih.

Postmodernisme tidak menolak ilmu kesehatan. Ia menolak absolutisme. Ia mengingatkan bahwa kehidupan selalu lebih luas daripada kategori. Ada wilayah abu-abu yang tak bisa diputuskan oleh diagnosis. Ada rasa, makna, dan cerita yang tak bisa disederhanakan menjadi data.

Barangkali yang perlu kita rawat adalah jarak. Jarak antara ilmu dan hidup. Agar ilmu tetap membantu, tanpa mencaplok seluruh makna keberadaan. Agar kesehatan tetap penting, tanpa menjadi agama baru yang tak boleh dipertanyakan.

Sebab hidup, pada akhirnya, bukan hanya soal bertahan lebih lama, melainkan soal bagaimana kita memberi arti pada rapuhnya tubuh dan singkatnya waktu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top