DEKONSTRUKSI KONSEP “SEHAT” DAN “SAKIT”: PANDANGAN JACQUES DERRIDA DALAM WACANA KESEHATAN

Kita kerap mengucapkan kata “sehat” dengan nada lega, seolah ia sesuatu yang pasti dan final. Sebaliknya, “sakit” terdengar seperti penyimpangan, sebuah kekurangan yang mesti segera dihapus. Bahasa sudah memilih pihak bahkan sebelum tubuh sempat berbicara.

Jacques Derrida akan berhenti sejenak pada kebiasaan ini. Ia curiga pada pasangan kata yang tampak rapi. Sehat dan sakit, dalam wacana modern, disusun sebagai oposisi biner. Yang satu hadir sebagai pusat, yang lain sebagai pinggiran. Yang sehat dianggap normal, rasional, produktif. Yang sakit diletakkan di wilayah kekurangan, gangguan, bahkan kegagalan.

Dekonstruksi tidak bertujuan meruntuhkan rumah, melainkan menunjukkan retaknya. Derrida mengajak kita melihat bahwa makna “sehat” hanya bisa berdiri karena adanya “sakit”. Yang satu membutuhkan yang lain untuk diakui. Tanpa sakit, sehat kehilangan batasnya. Tanpa yang dianggap abnormal, normal tak punya cermin.

Dalam wacana kesehatan, oposisi ini bekerja dengan disiplin. Rumah sakit, buku teks, dan protokol medis menyusun definisi. Sehat menjadi norma yang diam namun mengikat. Sakit menjadi deviasi yang harus dikoreksi. Tetapi di celah-celah bahasa itu, pengalaman manusia sering tercecer. Rasa nyeri yang samar, kelelahan yang tak terdiagnosis, kegelisahan yang tak punya nama, semua mengganggu ketertiban definisi.

Derrida menyebut adanya penundaan makna. Tidak ada arti yang sepenuhnya hadir dan tuntas. Sehat selalu sementara. Ia bisa runtuh esok hari. Sakit pun tidak absolut. Ada yang hidup lama dengan penyakit, ada yang menemukan makna justru di dalamnya. Namun wacana medis sering menutup ambiguitas ini demi kepastian.

Dengan dekonstruksi, kita diajak membaca ulang bahasa kesehatan. Siapa yang berhak menentukan seseorang sehat atau sakit. Bahasa siapa yang dipakai. Pengalaman siapa yang dikesampingkan. Di sini, pasien bukan sekadar tubuh yang rusak, melainkan subjek yang membawa cerita, yang tak selalu sejalan dengan grafik dan hasil uji.

Dekonstruksi tidak menolak ilmu kedokteran. Ia menolak kesombongan makna tunggal. Ia mengingatkan bahwa di balik istilah yang tampak objektif, selalu ada sejarah, kekuasaan, dan pilihan. Sehat dan sakit bukan hanya kondisi biologis, tetapi juga hasil tafsir.

Mungkin, dengan membaca Derrida, kita belajar menunda vonis. Membiarkan tubuh berbicara lebih lama. Mengakui bahwa di antara sehat dan sakit, ada wilayah abu-abu tempat manusia hidup sehari-hari. Di sana, kepastian melemah, tetapi empati justru menemukan ruangnya.

1 thought on “DEKONSTRUKSI KONSEP “SEHAT” DAN “SAKIT”: PANDANGAN JACQUES DERRIDA DALAM WACANA KESEHATAN”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top